Tips Memilih Mainan untuk Media Pendidikan Anak

Tips Memilih Mainan untuk Media Pendidikan
Memilih Mainan untuk Media Pendidikan
Media Pendidikan Anak, Anwariz.com - Betapa bahagianya memiliki seorang anak apapun yang mereka inginkan semampu dan sekuat tenaga akan kita berikan.  Pada masa anak lucu-lucunya dari balita sampai anak usia sekolah dasar, biasanya masih tertarik pada mainan. Sebagai orang tua, kita harus pandai-pandai mengarahkan anak dalam memilih mainannya.

Mainan yang kita pilih akan berpengaruh pada perkembangan anak, maka dengan itu  Memilih Mainan untuk Media Pendidikan, mempertimbangkan beberpa hal, diantaranya:

1. Sesuaikan dengan jenis kelamin

Anak laki-laki tentunya akan diberi bola, mobil-mobilan dan segala mainan yang menunjukan bahwa dia adalah laki-laki, begitupun sebaliknya, anak perempuan akan lebih kita arahkan pada boneka, masak-masakan dan mainan lain yang munjukkan bahwa dia seoarang anak perempuan. Jenis mainan yang dimainkan jangan sampai mempengaruhi pada perkembangan psikologi anak. Tanamkan pendidikan pada anak, dimana mereka belajar mengetahui perbedaan jenis kelamin.

2. Keselamatan anak

Lihatlah bahan dan standar yang tertera pada mainan tersebut, untuk Negara Indonesia biasanya tertera Standar Naional Indonesia (SNI), kemudian lihat pula petunjuk penggunaannya. Hindari mainan yang terdapat benda-benda kecil yang mudah copot, karena terutama pada anak balita, biasanya anak selain belajar meraba, juga mencoba memasukkan benda ke dalam mulutnya. Untuk anak sekolah dasar pun perlu memperhatikan bahan dasar dari mainan tersebut, hindarilah bahan-bahan yang tajam atau runcing. Jangan tertarik hanya pada bentuk mainan yang menarik saja, karena ada beberapa bahan dasar pembuatan mainan yang berbahaya bagi anak, contohnya  bahan yang mengandung zat kimia.

3. Bernilai edukatif

Mainan yang kita beli harus bernilai manfaat bagi anak terutama dalam merangsang perkembangan otaknya. Belilah mainan yang bersifat edukatif, seperti lego, pazel, ipad anak, alat musik atau mainan yang mengeluarkan bunyi dan lain sebagainya.

4. Sesuai kebutuhan dan kemampuan kita sebagai  orang tua.

Anak menyukai berbagai jenis mainan, namun tidak semua mainan pas dimainkan oleh anak kita. Mainan yang dibei harus sesuai kebutuhan, memperhatikan usia anak. selain itu tidak sedikit pula mainan yang harganya diatas rata-rata, maka sesuaikanlah dengan kemampuan ekonomi kita.  

Baca juga:

Membeli mainan dengan harga murah sebenarnya memberikan beberapa keuntungan diantaranya:

1. Menghemat uang, terlebih pada usia balita pertumbuhan dan perkembangan yang pesat menuntut adanya barang/keperluan baru setiap bulannya. Sedangkan pada anak usia sekolah, tentunya kebutuhan sekolah lebih utama dibanding sekedar mainan.

2. Anak memiliki beberapa jenis mainan sehingga anak tidak bosan.
Mainan anak memang beragam, mulai dari mainan berukuran kecil sampai mainan yang berukuran besar dengan model dan bentuk yang bermacam-macam pula, bahkan mainan anak terkadang dibuat menyerupai benda/alat yang sesuai dengan aslinya, yang membuat anak tertarik pada berbagai jenis mainan.

3. Orang tua dan pengasuh anak tidak usah khawatir berlebihan jika mainannya dimainkan oleh orang lain, justru inilah kesempatan buat kita mengumpulkan teman-teman anak kita untuk bermain bersama. Dengan terbiasanya anak bermain bersama menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dan menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap  sesama. Selain itu anak bisa berbagi barang yang ia miliki, mengetahui hak atau kepemilikan. 

Belajar bekerjasama dengan teman, dan jika kita arahkan anak pun terbiasa membereskan kembali mainannya karena hal itu dilakukan bersama sehingga tidak menjadi beban buat anak. Ada perbedaan pada anak yang sudah terbiasa berbagi dengan anak yang cenderung suka bermain sendiri atau hanya dengan keluarga dan pengasuhnya saja. Anak yang memiliki teman dan mampu berbagi atau meminjamkan mainannya lebih tenang dan tidak mudah rewel sehingga kita lebih ringan dalam mengasuh anak.
tips melatih anak untuk bekerjasama
Melatih Kerjasama Anak Sejak Dini
Berbeda  dengan anak yang bermain sendiri, ketika ada orang lain maka anak sulit untuk berbagi atau meminjamkan yang menjadi barang pribadinya kepada orang lain, anak lebih mudah menangis, merengek dan rewel bahkan tidak sedikit anak menginginkan mainan yang ada pada orang lain, namun mainannya sendiri tidak boleh dipegang oleh orang lain.

Jadikan waktu bermain sebagai waktu belajar anak, sehingga anak bermain sambil belajar. Tidak ada salahnya ketika bermain simpanlah beberapa buku di antara mainannya, sehingga anak sesekali membuka buku-buku tersebut. Menanamkan pendidikan sejak dini kepada anak bisa kapan saja dimana saja dan melalui media dan kegiatan apapun. Jadikanlah mainan yang anak miliki sebagai media pembelajaran. Jadikanlah kegiatan bermain sebagai moment menanamkan pembiasaan dan pembelajaran. Memilih Mainan untuk Media Pendidikan tidak harus selalu harga yang mahal.
 
Ada mainan anak seperti contohnya bola, selain anak belajar berbagi, dengan bermain bola anak menggerakan motoriknya, sehingga anak tidak hanya diam di depan layar kaca atau tiduran sambil makan saja, melainkan anak bisa bergerak melatih motorik mereka, selain itu anak juga belajar bekonsentrasi untuk mengarahkan bola sesuai dengan arah yang mereka inginkan. Untuk anak perempuan ada pula mainan lompat tali, dimana anak bisa saling bekerjasama dan juga tentunya menggerakan motorik mereka.

Terkait:

Mainan pun bisa kita buat dengan bahan yang tersedia atau mudah ditemukan disekitar kita. Kita bisa membuatnya bersama anak, sehingga menanamkan kreatifitas pada anak, sebagai contohnya kita bisa membuat mobil-mobilan atau pesawat dari dus bekas, membuat kincir angin dari kertas, membuat ular-ularan dari botol minuman plastik dan lain sebagainya.

Tidak ada salahnya jika kita memperkenalkan anak pada mainan tradisional, seperti: gasing, kelereng/gundu dan lain sebagainya, sehingga anak tidak tergantung pada mainan yang berbasis teknologi saja. Suguhkan anak pada mainan yang bersifat mendidik dan menghibur, agar anak tidak terfokus pada hiburan yang ada pada handphone, dan televisi saja, untuk mengurangi resiko kerusakan mata pada usia anak-anak, selain itu terlalu banyak menonton televisi anak lebih banyak mendengarkan dan meniru gerakan  namun secara komunikasi cenderung pasif. 

Untuk orang dewasa fungsi telepon genggam sebenarnya untuk berkomunikasi dengan orang lain, namun bagi anak-anak telepon genggam terkadang lebih dianggap sebagai mainan yang di dalamnya terdapat berbagai jenis permainan yang menarik, namun dampak negatif dari terlalu sering memainkan permainan tersebut adalah terjadinya penurunan daya nalar anak dan penurunan konsentrasi pada pelajaran, karena anak lebih terfokus pada permainan tersebut, sehingga mainan apapun itu harus dengan sepengetahuan dan pengawasan orang dewasa.

Memilih Mainan untuk Media Pendidikan tidaklah sulit, karena dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman, banyak mainan yang bernilai edukasi dan bermanfaat positif bagi anak, bukan hanya sekedar mainan yang menghibur anak semata, sehingga kitalah sebagai orang tua yang harus pandai-pandai dalam memilih mainan untuk putra dan putri tercinta dalam menukung perkembangan dan pertumbuhan anak ke arah yang jauh lebih baik. Mainan bukan hanya memanjakan anak namun sebagai media dalam kita menerapkan pembiasaan yang baik agar tertanam sejak dini.

0 komentar

Post a Comment