Thursday, November 24, 2016

Alasan Berhenti Kuliah, Mengundurkan Diri dari Kampus

Anwariz Blog Keren - Ketika Harus Berhenti Kuliah Bukan Berarti Harus Berhenti Mengejar Cita-cita - Alasan mengundurkan diri dari kampus, berhenti kuliah bukan untuk menjadi pemalas melainkan sebagai ajang pembuktian kepada diri sendiri atas pilihan terbaik dari sikap tegas yang harus diambil. Sekedar pengumuman saja, jauh sebelumnya saya pernah menuliskan beberapa alasan kuliah di kampus UPI untuk kalian baca.

alasan keluar kuliah kampus upi
Kampus UPI
Pada waktu itu tahun 2010 silam, menginjakan kaki di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung adalah suatu kebanggaan, karena memang awalnya sudah menjadi pilihan untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat universitas. Walau datang dari kampung, bukan berarti tidak bisa mengenyam bangku kuliah, buktinya saya bisa. Sampailah pada bulan 10 tahun 2016, bulan ini November namanya. Ya, sudah 6  tahun saya menjalani masa perkuliahan yang begitu mengesankan sekaligus membosankan, hingga sampailah pada titik jenuh paling puncak. 

Saya sudah bukan lagi mahasiswa, bukan pula sanjana seperti yang di cita-citakan sejak 6 tahun lalu. #GagalWisuda. Sudah terlalu capek dengan semua kegiatan belajar mengajar di lingkungan formal seperti kampus dan bahkan sekolah-sekolah pada umumnya. Capek bukan berarti mengutuk ilmu pendidikan, hanya saja kondisinya bukan lagi seperti semula. Buat saya belejar bukan soal formalitas, melainkan belajar menjadi berkualitas. 
Menimba ilmu nggak harus di sekolah, di kampus, atau apalah namanya itu.

Saya suka sekali belajar. Sangat suka. And I believe that I will never stop learning, ever. Keingin tahuan akan hal-hal baru, pengalaman baru menarik diri dari sebuah lingkungan kampus megah dan mewah. Belajar menggali informasi baru sudah menjadi kebutuhan saya. Hanya saja sudah terlalu capek jika dipaksakanpun bukan menjadi baik. Ambil sikap. Berhenti saja.

Biar bagaimanapun lelahnya menjalani rutinitas akademik. Ada hal lain tentang pencapaian selama ngampus. Terakhir melihat transkrip nilai gak jelek-jelek amat, IPK seluruh semester saya 2,87 artinya sangat memuasakan. Angka segitu tuh nggak kecil bro. Tidaklah mudah mendapatkan angka segitu di jurusan teknik, yang notabene adalah jurusan industri permesinan, industri mahal, gak semua orang mampu melakukan pekerjaan teknisi. Semua itu dinilai subjektif, orang bilang “bagus dan jelek itu relative. Subjektifitas terkadang menjadi pemicu ketidakadilan…

Memang begitu adanya, ketika dosen kamu suka dia akan bilang bagus, tapi sebaliknya kalua dia gak suka atau malah seperti sentimen maka siap-siap saja pekerjan itu dianggap jelek. Kalau di piker-pikir polanya seperti anak kecil yang menganggap semuanya terserah saya, yang memberi nilai kan saya.

Ya sudahlah itu hanya sekelumit gambaran dunia pendidikan formal di sekitar. Masa lalu meski baru satu hari lalu resmi mengundurkan diri secara terhormat bukan berarti harus menyudahi segalanya sampai di sini. Justru inilah sikap yang saya ambil untuk mewujudkan mimpi besar di luar sana.. Akhirnya sekarang bebas mengekspresikan isi kepala dan semua rencana besar di bidang yang tengah ditekuni saat ini. Let’s do it right now!

Hari ini sudah tidak langi mengejar mimpi menjadi seorang teknisi andal ataupun guru teladan. Masih terlalu sedih mengingat betapa kedua orang tua mengharapkan saya menjadi guru dan melanjutkan pengambdian beliau-beliau saat ini dan nanti di dunia pendidikan.

Jujur, sejak duduk di bangku SMP saya senang sekali dengan menulis. Ya, dunia tulis menulis, karya seni tulis bahkan sempat mempelajari seni lukis dan seni rupa. Rupa-rupanya seakan ada suara kecil di dalam hati yang meminta untuk dipertegas. Betapa bahagianya ketika menulis, mengekspresikan apa saja sesuai maunya dia isi hati dan naluri seni. Inilah saat tepat menjadikan itu sebagai tujuan hidup kedepan, memperjuangkan pekerjaan baru sesuai passion. Mendalami dunia kepenulisan dibarengi dengan bagaimana caranya tulisan itu menghasilkan manfaat besar baik bagi penulisnya maupun bagi pembacanya dikemudian hari. Be writer and be entrepreneur..!


alasan resign dari kampus
Alasan Berhenti Kuliah
Sebelumnya tidak pernah mengambil jatah cuti. Waktu itu pada masa-masa KKN adalah kenangan terakhir paling mengesankan bersama teman-teman lain jurusan, tinggal satu atap bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Selesai menjalani tugas Kuliah Kerja Nyata di Garut waktu itu, kebetulan saya sendiri yang memilih lokasi di sana karena biar lebih dekat ke rumah, jadi bisa bebas menjumpai keluarga sebenarnya di sela-sela program. Banyak cerita menarik dari semua rangkaian kegiatan di sana, namun sayangnya program KKN sudah berakhir, saatnya kembali ke kampus. Berawal dari sinilah benih-benih memundurkan diri dari kampus mulai terasa.

Kejenuhan menjalani rutinitas monoton. Kuliah seperti biasanya duduk di kursi depan dosen, mengerjakan tugas-tugas bersama teman hanya untuk sebuah angka dan selembar kertas tak berguna. Itu bukan saya banget. Maka dari itu keputusan terbaik ini diambil dalam tempo yang cukup panjang melalui pertimbangan, diplomasi, lobbying dan sampailah pada titik dimana sekarang saya sudah resmi mengundurkan diri sebagai mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Saya bukan lagi mahasiswa, bukan pula sarjana penuh derita. Saya adalah seorang yang hidup dari hobi dan passion. 


Sangat tidak menutup kemungkinan jika saya akan melanjutkan kuliah lagi di tempat lain. Mungkin hanya waktu dan ruang saja yang akan membantu memberikan jawabannya. Mari simak saja perjalanan mengagumkan saya setelah ini. Hehehe. I really love learning till the end of time but I just don’t like to studying formality.

Sampai di sini dulu tulisan kali ini tentang Ketika Harus Berhenti Kuliah bagian satu. Akan ada lanjutan cerita dari kisah mengundurkan diri dari kampus. Tetap belajar meski harus di luar ruangan, sebab pembelajar sejati ialah belajar bagaimana caranya belajar. Keep it simple!
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner