Ujian Mental Dalam Organisasi

uji mental dalam organisasi

Anwariz Blog - Uji Mental dalam Organisasi - Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menguji seseorang baik itu secara pikiran, fisik, maupun mental atau kepercayaan diri seseorang. Hal ini banyak dilakukan alam sebuah organisasi yang turun-temurun dilakukan oleh setiap generasi penerusnya. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi yaitu cara yang dilakukan untuk menguji menggunakan cara yang benar atau tepat, ada pula kemungkinan menggunakan serangkaian cara yang salah dan tentunya dibelakang sepengetahuan penanggung jawab. 

Banyak contoh kasus yang sudah diberitakan di televisi untuk mengikuti tes masuk organisasi ada serangkaian perpeloncoan lebih tepat dikatakan penjajahan terhadap adik kelas yang mengikuti organisasi tersebut, ada yang dengan adu pisik atau kekuatan, ada yang makan di atas tanah tanpa alas, ada yang harus memakai pakaian layaknya orang gila dan keliling jalan, ada yang dibentak-bentak dengan kesalahan sedikit dan lain sebagainya. Cara-cara seperi itu suah harus dihapuskan karena tentu tidak sesuai dan tidak semestinya. 

Ada cara yang lain yang lebih arif dan bijaksana, ada cara lain yang lebih tepat untuk menguji seseorang . Ujian mental (ujmen) dalam suatu organisasi harusnya bukanlah sesuatu yang menakutkan melainkan sesuatu kegiatan yang menyenangkan dan menarik minat calon anggotanya serta dapat menyalurkan bakat dari calon anggotanya. Gunakan cara-cara yang sesuai dengan tujuan organisasi tersebut. Tentunya dibutuhkan pengawasan penanggung jawab secara nyata.

Berikut beberapa cara yang tepat untuk ujian masuk organisasi:

1. Penganggung jawab harus melakukan pengawasan yang nyata.
2. Bentuk panitia penerimaan calon anggota baru agar dapat dengan mudah dalam pembagian tugas dan pertanggung jawabannya.
3. Buatlah sosialisai pada semua panitia bahwa da serangkaian kegiatan yang harus dan tidak boleh dilakukan.
4. Untuk ujian pisik hanya menggunakan bentuk perlombaan atau pertandingan olahraga atau kesenian saja. (keamanan tetap jadi prioritas)
5. Untuk ujian kemampuan atau materi bisa secara lisan atau tulisan.
6. Untuk ujian yang sering dikenal dengan sebutan ujian mental atau ujmen, bentuklah kegiatan yang mampu menggali rasa percaya diri mereka seperti pentas seni, debat, dan perlombaan lainnya yang bersifat edukatif. Tidak lagi ada bentakan, cacian, makian, kakak kelas yang marah-marah, makan makanan yang disimpan ditempat yang tidak layak  atau Satu  makanan yang digigit bersama-sama, karena dari segi kesehatan hal tersebut sudah tidak sehat.
7. Carilah kegiatan yang membentuk anak satu dengan yang lainnya bekerja sama, saling berbagi, saling percaya, saling membantu dan kebersamaan yang menyenangkan, sehingga kedepannya akan lebih mudah lagi apabila terkumpul dalam satu tujuan yang sama.
8. Hilangkan senioritas dan junioritas, hilangkan gap, hilangkan gank.
9. Adanya laporan kegiatan yang jelas secara dokumen.
10. Siapkan pos pengaduan agar lebih awal siap untuk ditindak.
11. Tidak melupakan kegiatan keagamaan.
12. Lebih banyak pada pengenalan lingkungan, pengenalan visi dan misi organisasi tersebut.
 
Baca juga:

Isilah kegiatan berorganisasi dengan kegiatan yang positif agar tidak ada lagi korban berjatuhan yang mana korban itu adalah generasi – generasi penerus kita yang penuh bakat dan prestasi. Hilangkan serangkaian kegiatan yang menimbulkan rasa marah dan dendam yang akan diwariskan pada generasi berikutnya, sudah saatnya memutus rutinitas yang salah dan membenahi serta merubahnya menjadi hal yang positif dan penuh tanggung jawab dan dapat di pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.

[anwariz.com - ayu w]

0 komentar

Post a Comment