Surak Ibra, Seni Tradisional Garut ini Perlu Dilestarikan

SURAK IBRA Kesenian Tradisional Garut

Kesenian Surak Ibra juga memiliki nama lain dengan sebutan Boboyongan merupakan seni tradisional hasil karya cipta Raden Djajadiwangsa putera Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak﴿. Pangeran Papak meninggal sekitar tahun 1955, di Sindangsari, Cinunuk Kec. Wanaraja Kab. Garut.

seni tradisional garut surak ibra
Surak Ibra, Seni Tradisional dari Wanaraja Garut

ANWARIZ - Kesenian Tradisional Khas Garut - Kesenian Surak Ibra juga memiliki nama lain dengan sebutan Boboyongan merupakan seni tradisional hasil karya cipta Raden Djajadiwangsa putera Raden Wangsa Muhammad (Pangeran Papak﴿. Pangeran Papak meninggal sekitar tahun 1955, di Sindangsari, Cinunuk Kec. Wanaraja Kab. Garut.

Kesenian Surak Ibra adalah seni berwujud sisindiran kepada pemerintahan Belanda pada masa penjajahan karena sikapnya yang sewenang-wenang terhadap masyarakat jajahannya. Lebih khusus pada rakyat Desa Cinunuk dan umumnya rakyat Kabupaten Garut kala itu.

Timbulnya keinginan serta memupuk pendirian masyarakat untuk membentuk pemerintahan tersendiri secara bersama-sama diwujudkan melalui simbol-simbol Surak Ibra. Rasa persatuan dan kesatuan pemerintahan dan masyarakatnya juga diwujudkan melalui perlambang gerakan dan koreografi, demi tercapainya keadilan dan pemerintah yang bijak secara mandiri dengan penuh semangat kebersamaan.

Konon pucuk penari di bagian atas menginjak-injak penari lain dibawahnya sebenarnya berdiri pada telapak tangan para penari. Gerakan tersebut melambangkan bentuk penjajahan (menginjak-injak) rakyat jelata, kemudian terjadi sebuah perlawanan dengan naiknya salah seorang penari lain dan pertarungan-padungdung pun tak terelakan. Maka tak ayal peragaan  jurus-jurus silat diatas pijakan telapak-telapak tangan para penari menjadi tontonan seru lalu ketika sang wakil rakyat dapat mengungguli penari yang merupakan symbol penjajah, maka diboyonglah sang pemimpin itu dengan cara melempar-lemparkannya sambil bersorak-sorai. Berangkat dari gerakan inilah kemudian muncullah istilah Boyongan pada kesenian Surak Ibra.

Kesenian simbol perlawanan terhadap kebengisan penjajah Belanda ini biasanya dibawakan oleh puluhan (50-96) orang profesional dan terlatih yang terdiri dari pemain dogdog, pemain angklung, dan alat musik pendukung lainnya termasuk beberapa diantarannya sebagai penari. Permainan akan semakin seru dan atraktif ketika pada pucuk tarian salah seorang penari dilempar-lempar oleh penari dibawahnya. Sungguh pertunjukan memukau kental akan budaya tradisional setempat.


Kurang lebih sudah 4 generasi melestarikan Kesenian Tradisional Surak Ibra ini sejak berdirinya tahun 1910 sampai saat ini. Sebenarnya sekarangpun sudah saatnya diakukan regenerasi karena diantara pemain sudah banyak senior dengan usia sudah tak muda lagi. Hal ini menjadi perhatian bagi pemuda daerah setempat untuk tetap melestarikan kesenaian ini ditengah pesatnya kemajuan seni modern.

Peremajaan atau regenerasi sangat diperlukan mengingat banyaknya presatasi serta pupularitas seni tradisional Surak Ibra yang tengah menjadi salah satu ikon kesenian khas Kabupaten Garut, bahkan telah populer hingga tingkat Provinsi Jawa Barat ketika mengadakan festival seni oleh Gubernur.

Surak Ibra biasa dipentaskan di Garut ketika memperingati hari jadi Kabupaten Garut atau har-hari besar lainnya. Namun, kesenian tradisional ini sudah mulai jarang terlihat lagi geliatnya. Semoga saja kesenian tradisional garut Surak Ibra tetap hidup, tetap mengakar di Bumi Pertiwi Kabupaten Garut khususnya, umumnya di tanah air tercinta Indonesia.

0 komentar

Post a Comment